Salah Satu Bengkel Andong yang Masih Tersisa di Ambarawa Milik Mbah Slamet

Salah Satu Bengkel Andong yang Masih Tersisa di Ambarawa Milik Mbah Slamet – Moda transportasi tradisionil seperti andong serta dokar masihlah berada di bermacam daerah di Indonesia ditengah-tengah gempuran produksi massal kendaraan bermesin. Andong atau dokar terdapat banyak didapati di beberapa daerah.

Diantaranya di seputar Ambarawa Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Andong yang ditarik kuda terdapat banyak digunakan penduduk jadi fasilitas transportasi.

Kalau andong rusak seperti roda, jok tempat duduk, di mana banyak kusir atau pemilik andong itu bakal memperbaikinya. Di bengkel manakah mereka akan tiba memperbaikinya.

Salah satunya bengkel andong yang masihlah tersisa yaitu bengkel andong Mbah Slamet, di Desa Kalipawon, Kecamatan Ambarawa. Sekarang bengkel itu dikendalikan Lustarmaji (65). Dia hingga saat ini masihlah menyambung usaha pembuatan serta bengkel andong warisan ayahnya, Mbah Slamet.

“Bapak saya bangun usaha pembuatan serta bengkel andong ini semenjak 1939. Hingga tahun 90-an kami masihlah miliki delapan karyawan. Tetapi saat ini tinggal saya sendiri saja, sebab saat ini yang delapan itu ya jumlahnya semua andong di Ambarawa,” Papar Mbah Lus sapaan akrab Lustarmaji, Selasa (19/2/2019).

“Dahulu orang, Magelang, Salatiga, Boyolali serta Semarang pesan serta reparasi di tempat ini. Hingga kelabakan, Mas, namun saat ini ya laksanakan saja, mesti konsisten bertahan,” tuturnya.

Dia menuturkan reparasi andong udah gak menentu ada, kadang-kadang dalam 1 bulan tdk ada betul-betul. Atau kadang-kadang cuma ada banyak, namun dia konsisten setia buka bengkel andong buat berjaga-jaga bila ada konsumen hadir.

“Bila saya tutup, kelak ada masalah ikut cari tempat servis. Dari dahulu ya hanya kami di tempat ini jadi rekomendasi andong rusak. Bulan ini saja baru ada satu, servis roda, habis cost 240 ribu,” papar Lus.

Dia meneurutkan sekarang ini cuma ada dua andong di bengkelnya. Satu punya konsumen, tengah yang satu kembali yaitu andong hasil ayahnya. Lus punya niat jual andong warisan sang bapak bila ada orang yang minat membelinya.

“Ini dibikin tahun sekitaran 1940, yang mengerti histori andong tentu tahu, sebab dapat disaksikan dari klem serta isyarat stempel bintang di besi pengait yang berada di bawah tempat duduk kusir, masalah harga kelak dibicarakan sesudah memonitor keadaan andong,” jelas Lus sambil membuktikan letak klem yang dia maksudkan.

Lus konsisten berusaha menjaga usaha bengkel andong warisan sang bapak. Meskipun jarang ada konsumen atau orang yang mereparasi andong.

“Bila saat ini buat mulai bisa harga Rp 30-50 juta. Satu tahun buat satu udah bersukur. Bila dari sisi harga memang Mahal, sebab saya masihlah manual, serta bahan yang dimanfaatkan ikut pilihan. Intinya saya siap membikinkan sesuai sama keinginan, pada saat saya dapat serta sanggup,” tandas Lus.