Penanganan Sesudah Bencana

Penanganan Sesudah Bencana – Baiknya, musibah berbentuk apa pun bisa kita hindari atau sekurang-kurangnya kita dapat meminimalisasi efek kerugian yang berlangsung. Tapi, saat satu musibah tidak diduga ada, jadi yang diperlukan tidak pelak ialah aksi responsif darurat serta usaha perlakuan pasca-bencana yang betul-betul terorganisir.

Tiap-tiap berlangsung musibah, kita ketahui negara selalu ada serta lakukan beberapa aksi perlakuan. Keterkaitan aparat keamanan, instansi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, serta beberapa relawan dalam perlakuan korban musibah sedikit-banyak sudah kurangi beban penderitaan yang harus dijamin beberapa korban musibah.

Akan tetapi, untuk pastikan supaya korban musibah betul-betul mendapatkan service serta perlakuan terunggul, pasti yang diperlukan bukan sebatas sikap reaktif, tetapi pengaturan perlakuan yang betul-betul terpadu.
Rehabilitasi serta Rekonstruksi

Arah perlakuan musibah ialah bagaimana memberi dukungan usaha pemulihan pasca-terjadinya musibah bisa berjalan efisien serta penduduk selekasnya sembuh kembali dari trauma. Kehidupan sosial-ekonomi penduduk sebagai korban musibah bisa kembali berkembang, tak perlu kelamaan terjatuh dalam penderitaan sebab kehilangan harta benda serta sanak keluarga.

Tiap-tiap berlangsung musibah, kita ketahui penduduk sebagai korban bukan sekedar beberapa puluh, tapi beberapa ratus serta bahkan juga beberapa ribu jiwa jadi korban. Dalam masalah tsunami yang menerjang Aceh pada Desember empat belas tahun yang lalu, jumlahnya korban bahkan juga sampai beberapa ratus ribu jiwa. Dalam tragedi tsunami yang menempa lokasi Selat Sunda 22 Desember 2018 tempo hari dilaporkan sekurang-kurangnya jumlahnya korban wafat sampai 300 jiwa lebih. Ini belumlah termasuk juga korban yang hilang, terluka, serta beberapa bangunan yang luluh-lantak.

Penduduk serta lokasi sebagai korban musibah tentunya butuh secepat-cepatnya direhabilitasi serta dikerjakan rekonstruksi. Lebih dari sebatas menyiapkan tenda-tenda penampungan dalam tempat pengungsian, penduduk sebagai korban musibah, terpenting yang kehilangan harta benda serta asset produksinya, mereka pasti memerlukan uluran tangan dari pemerintah untuk pastikan peluang kembali bangkit dari kemerosotan.

Penduduk korban musibah yang perahunya hilang sebab terbawa tsunami, tempat tinggalnya hancur diterjang air laut yang menggunung, sawahnya rusak diterjang banjir, toko atau warung kepunyaannya tidak kembali berbekas sebab luapan air laut, dan lain-lain, pasti mustahil mereka bisa kembali bangkit secara cepat jika tidak mendapatkan uluran tangan dari pemerintah.

Pekerjaan rehabilitasi pasca-terjadinya musibah tidak hanya dikerjakan berbentuk perbaikan lingkungan, ikut pertolongan perbaikan rumah korban musibah, pemulihan sosial-ekonomi-budaya, pemulihan service publik, anak-anak kembali pada sekolah, dan sebagainya, yang mempunyai tujuan supaya penduduk selekasnya bisa kembali melakukan aktivitas dengan normal dalam kehidupan keseharian.

Sedang, pekerjaan rekonstruksi dikerjakan lewat pembangunan kembali prasarana serta fasilitas, aplikasi rancang bangun yang pas serta pemakaian perlengkapan yang lebih baik serta tahan musibah, revitalisasi kembali keterlibatan serta ikut serta instansi serta organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, serta penduduk, dan penambahan keadaan sosial, ekonomi, serta budaya pasca-terjadinya musibah. Sejauh mungkin mesti dijauhi terjadinya kekosongan dalam service publik serta tanggung jawab pemerintah memberi perlindungan dan service yang terunggul buat penduduk di beberapa bagian.

Untuk lakukan rekonstruksi telah pasti memerlukan dana yang banyak. Untuk rekonstruksi Lokasi Ekonomi Spesial (KEK) pariwisata Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten contohnya, sekurang-kurangnya diperlukan dana seputar Rp 150 miliar, sebab seputar 30 % gedung serta infrastruktur yang berada di daerah itu rusak serta memerlukan perbaikan selekasnya. Untuk peristiwa musibah yang bertaraf raksasa, seperti berlangsung di Palu, Donggala, NTB, ditambah lagi Aceh, pasti dana yang diperlukan tambah lebih besar.

Exit Strategy

Saat musibah barusan berlangsung, memang yang diperlukan ialah beberapa langkah responsif darurat yang cepat supaya resiko kerugian serta efek yang berlangsung tidak meluas. Tapi, untuk perlakuan yang lebih substansial, pasti yang diperlukan ialah roadmap yang pasti serta terukur.

Pemerintah butuh selekasnya lakukan pengaturan yang terpadu untuk pastikan supaya selekasnya dapat mengatasi permukiman yang rusak, bagaimana dapat selekasnya merehabilitasi sekolah, tempat beribadah, rumah sakit yang rusak, berapakah lama, lewat cara apakah, penduduk yang tempat tinggalnya 80 % hancur dapat dibuat kembali dengan bangunan yang seperti apakah, siapa yang bangun, berapakah biayanya, serta berapakah lama. Ini semua ialah agenda kerja yang butuh selekasnya dirumuskan menjadi exit strategy pasca-bencana.

Untuk merehabilitasi serta merekonstruksi kembali penduduk serta daerah yang barusan dirundung musibah, mesti disadari bukan perihal yang gampang. Di dalam keadaan keuangan negara yang belum juga kuat serta peristiwa musibah yang berlangsung di beberapa daerah, pasti pemerintah mesti betul-betul kalkulatif serta adil dalam mengendalikan alokasi biaya.

Melawan penduduk korban musibah yang telah kehilangan segala-galanya pasti yang diperlukan ialah kesabaran tambahan. Perlakuan yang kurang responsif serta berkesan pilih kasih, janganlah kaget bila mengundang kecemburuan sosial serta memantik memprotes korban musibah.

Setiap saat berlangsung musibah, pengalaman sudah banyak tunjukkan jika tetap ada pihak yang coba mengail di air keruh serta manfaatkan peristiwa musibah untuk kebutuhan politik praktis. Penduduk yang dalam keadaan letih serta menanggung derita memang condong lebih gampang terpancing rumor hoax sekitar musibah. Cukup dengan kesungguhan serta rencana yang pasti, jadi perlakuan pasca-bencana akan berjalan sesuai dengan skenario.

Musibah ibaratnya ialah mimpi jelek yang benar-benar tidak kita kehendaki. Akan tetapi, saat musibah itu tidak diduga menyergap, jadi langkah yang penting ialah bagaimana kita dapat melawannya serta pastikan penduduk selekasnya sembuh dari trauma serta penderitaan karena musibah yang dirasakannya.

Bagong Suyanto Guru Besar FISIP Kampus Airlangg