Obat-obatan dan Pupuk yang Beredar di Brebes Tidak Masuk Dalam Daftar di Kementan

Obat-obatan dan Pupuk yang Beredar di Brebes Tidak Masuk Dalam Daftar di Kementan – Peredaran obat serta pupuk pertanian ilegal serta palsu ramai di golongan petani Brebes, Jawa Tengah. Obat-obatan serta pupuk ini tak masuk dalam jadwal di Kementan.

Kabid Tempat serta Prasarana Dinas Pertanian serta Ketahanan Pangan Brebes, Muhamad Furqon membetulkan tersedianya peredaran obat serta pupuk ilegal ini.

Kecuali dipasarkan di toko pengecer obat pertanian, produk ilegal ini pula di pasarkan melalui langkah door to door. Metodenya dengan mendatangi kelompok-kelompok tani serta membujuk mereka dengan harga terjangkau.

“Awalannya bisa laporan dari golongan tani di Desa Rancawulu. Saya cek nyata-nyatanya benar. Modusnya pertama dengan mendatangi golongan tani. Ke-2 dengan perebutan harga. Umpamanya beli dua bisa satu,” jelas Muhamad Furqon waktu dijumpai di kantornya, Selasa (19/2/2019).

Dari laporan itu, pihak Dinas Pertanian serta Ketahanan Pangan Brebes menjumpai petani yg udah beli. Sesudah dikerjakan pengecekkan, ada ketidak-pasan dalam nomer daftar. Di mana nomer daftar itu tak masuk dalam jadwal Kementerian Pertanian.

“Waktu dicek, nomer daftar tidak cocok dengan ketentuan Kementan, jadi perlu diduga ialah obat serta pupuk palsu,” paparnya.

Lewat cara detail di jabarkan, sesuai sama Ketentuan Menteri Pertanian (Permentan) nomer 24 Tahun 2011 mengenai Ketentuan serta Cara-cara Pendaftaran Pestisida, nomer pendaftarannya mesti terdiri dalam huruf RI serta dilanjut dengan 14 digit. Apabila nomer daftar tidak cocok maka bisa dikelompokkan menjadi produk palsu serta ilegal.

Dari penelusuran di lapangan, waktu itu pun petugas sukses menemukannya lima brand obat serta pupuk yg tidak teregister. Lima produk itu semasing bermerek Biomaks (bio organik cair), Starflash (pestisida dengan zat pengontrol tumbuh), Ultimax (insektisida), Biostar serta Deltox (fungisida).

Menurut pembicaraan Furqon, beberapa puluh petani pun dilaporkan udah membelinya. Dikarenakan, harga yg dipasarkan tambah murah dari kios atau toko obat. Ditambah lagi dalam pasarkan melalui langkah door to door.

Kecuali di Desa Rancawulu, petugas pun menemukannya dua produk palsu di kios obat pertanian di Desa Kedungtukang Jatibarang. Dua produk ilegal itu semasing Vitrol (fungisida) serta pupuk cair brand Panther.

Rois Amri (32) pemilik kios mengakui baru sekali beli produk itu. Ia memperoleh produk obat itu dari sales keliling.

“Baru (membuka) dua bulan ini. Dari mula Januari. Serasi ada yg tawarkan produk, saya mengambil sejumlah untuk persediaan di toko. Tetapi memang tidak jelas kalaupun produknya nyata-nyatanya palsu (tak tercatat),” saya pemilik kios Amri Jaya Tani.